Sebuah siang yang panas, dengan matahari yang terik-teriknya. Seorang pemuda bernama Sanders tengah berjalan-jalan di jalan sebuah kota metropolitan. Topi yang dipakainya sedikit membantu menghadapi teriknya hari ini. Merasa lelah, ia duduk di sebuah yang terletak persis di dekat sebuah taman kota.
Ia mengamati sekitar. Ada gedung, ada kendaraan, dan ada juga pejalan kaki. Sekilas tak ada yang istimewa. Tapi Sanders tak terlihat kecewa, ia justru menikmati. Beberapa saat kemudian, sebuah bus besar melintas. Sama seperti seperti bus pada umumnya, bus itu bergambar dan berdesain tertentu. Sebenarnya tidak ada yang istimewa, karena memang ada banyak sekali yang seperti itu. Tapi tiba-tiba, Sanders bangkit. Wajahnya yang semula biasa saja kini terlihat bersemanga, disertai senyumt. Ia pun lalu mengeluarkan pensil dan kertas dari sakunya lalu menuliskan sesuatu pada kertas itu. Apa yang terjadi?
Setelah selesai, Sanders bangkit berdiri. Ia lalu berjalan-jalan lagi.
Sekali lagi, apa yang terjadi? Mengapa tiba-tiba ia terlihat seperti menemukan sesuatu? Benarkah bus yang dilihatnya adalah bus yang biasa saja? Apa yang ditulis Sanders?
Well, sebelum anda mulai merah dan menyakiti monitor anda, lebih baik segera kita bahas. Tapi, pembahasan ini akan saya mulai dengan sebuah pertanyaan. Terserah mau dijawab apa tidak, hukumnya mubah kok. Tidak dijawab ga apa-apa, kalau dijawab yang untung juga anda kok, bukan saya. Pertanyaannya, dari manakah anda biasa mendapat aspirasi?
Dengan menjawab, atau setidaknya membaca pertanyaan barusan sebenarnya sudah bisa ditebak cerita sebenarnya dari kisah si Sanders. Ya, saat itu ia tengah mencari inspirasi. Sebenarnya, hampir semua inspirasi yang kita dapatkan muncul ketika kita sedang melakukan kegiatan sehari-hari seperti memancing, mencari ikan, menjaring ikan, dan semacamnya. Adalah jarang sekali atau bahkan tidak pernah kita mendapat inspirasi ketika kita sedang serius di depan meja kerja dengan pemandangan membosankan berupa lampu kerja dan peralatan lainnya.
Sanders tahu akan hal ini. Bahkan ia tahu dua hal. Pertama, bahwa inspirasi tidak datang di meja kerja saat sedang berserius ria, tapi justru datang saat pikiran kita sedang tenang. Karena itulah ia berjalan-jalan, bersantai. Sebenarnya kota metropolitan memang bukan tempat yang tepat untuk berjalan-jalan atau bersantai, tapi apa boleh buat, ’orang kota’ gitu lho. Inspirasi tidak datang dari diri sendiri, tapi ia datang dari lingkungan sekitar kita. Kalau kita ingin mencari inspirasi, carilah lingkungan atau tempat yang di sana kita bisa melihat banyak hal. Dari hal-hal yang kita lihat itulah inspirasi bisa muncul. Saya sendiri pernah mendapat inspirasi saat bermain game, atau mendengarkan musik tertentu.
Kedua, bahwa inspirasi dapat datang kapan saja. Seperti yang telah disebutkan, inspirasi bisa saja datang saat kita tengah melakukan kegiatan sehari-hari entah itu rutin atau tidak. Inspirasi juga bisa datang entah diinginkan atau tidak. Dan pada saat munculnya inspirasi itu, terkadang adalah saat-saat yang sibuk dimana kita tidak bisa langsung mengolah inspirasi itu. Karena itulah, Sanders membawa catatan kecil dimana ia bisa menuliskan semua inspirasi yang baru didapatkannya agar nanti ketika ia membutuhkan, ia tidak lupa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar