Senin, 25 Oktober 2010

Tridalry dan Namsaryan Terakhir part1


              Berawal Dari Sebuah Akhir (Download PDF)

            Hampir gelap. Langit biru dipenuhi lukisan awan-awan kuning dan sinar terang di cakrawala barat. Saat itu cuaca cerah, dengan angin yang sepoi-sepoi. Tapi keadaannya sangat sunyi, hanya terdengar beberapa suara serangga dan deru angin lembut. Sangat berbeda dengan beberapa hari yang lalu, di saat-saat sebelum kehidupan di kota ini sirna.
            Di sana masih ada beberapa kelompok Namsaryan, manusia terpilih yang memiliki kekuatan istimewa. Dilihat dari tenda dan peralatan sederhana yang mereka bawa, mereka adalah pengungsi. Saat ini sebagian besar dari mereka mendirikan tenda di dekat sebuah jurang dalam berair yang membelah kota Vahren, kota besar di dekat ujung selatan Pegunungan Hazaira yang kini tinggal puing-puing. Mereka juga terlihat mencari barang-barang bekas diantara reruntuhan yang mungkin saja masih bisa dipakai. Di tengah kebersamaan di dekat api unggun, mereka terlihat gembira seolah terlupa akan bahaya yang menjadi alasan kepergian mereka.
            Dari arah barat di mana matahari terbenam di balik lautan, tiga Namsaryan terbang mendekati bekas dari kota yang dulu pernah jaya. Dua laki-laki dan satu perempuan, dan mereka terbang dalam formasi segitiga. Terdapat pendaran ungu pada tangan mereka yang berlapiskan metal dan juga pada punggung mereka yang saat ini berbentuk sayap. Pendaran ini hanya muncul saat Namsaryan mengaktifkan kekuatan istimewa mereka.
            ”Ada api unggun, masih ada Namsaryan di sana.” Kata lelaki yang di belakang.
            ”Tapi menurutku, mereka hanya pengungsi.” Perempuan di samping laki-laki itu menimpali. ”Bagaimana menurutmu Azraliel?”
            Lelaki di depan yang dimaksud itu tak langsung menjawab. Pandangannya yang tadi lurus ke depan, ia tolehkan agak ke bawah, ke arah bekas kota yang di atasnya menyala beberapa api unggun. ”Biarkan saja, sebaiknya kita biarkan mereka menikmati malam terakhir mereka.” Tak lama setelahnya, dikepakkannya sayap ungunya yang menyerupai sayap naga itu lebih keras dan ia pun terbang naik. ”Dan untuk itu, sebaiknya kita jangan sampai terlihat.”
            Laki-laki dan perempuan yang di belakang, yang sayap mereka menyerupai sayap elang segera mengikuti. Mereka bertiga naik cukup tinggi dan berharap awan kekuningan yang cukup banyak bertebaran itu dapat menyembunyikan kehadiran mereka. Dan dari atas sana, mereka dapat melihat kembali kota yang kini tinggal nama.
            Jurang baru yang membelah kota itu terlihat dengan sangat jelas. Banyak terlihat juga kawah-kawah ledakan di mana-mana. Jalan besar yang seharusnya masih terlihat jelas kini seperti garis putus-putus karena banyaknya puing dan reruntuhan dari bangunan kota yang tak satu pun masih utuh. Warna hijau juga sudah tiada terpancar lagi, hampir semua tanamannya sudah tak berdaun, hangus terbakar. Sebagian lainnya tercabut dari tanah, atau bahkan hancur sama sekali menjadi kepingan kecil.
            Ketiga Namsaryan itu memandang bekas kota itu dengan sayu, hati mereka sebenarnya tidak menginginkan hal ini. Tapi mereka juga tahu, bahwa tidak semua keinginan mereka harus terpenuhi. Ya, mereka bertigalah yang telah mengubah kota besar ini menjadi reruntuhan besar.
            ”Kau baik-baik saja Lyarin?” Melihat perempuan di sebelahnya hampir menangis, lelaki ini tak tahan untuk terus diam.
            Perempuan itu, Lyarin segera mengusap matanya yang basah. ”Tidak apa-apa, Gamnaron. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku.” Ia tersenyum sebentar dan menunjukkan kecantikannya, lalu kembali memandangi kota itu.
            Sebenarnya Gamnaron tahu selama ini Lyarin terlalu memikirkan hal ini, yang malah mempersulit dirinya. Tapi jika ia sudah berkata baik-baik saja, Gamnaron tak bisa memaksa. ”Sebenarnya, aku sendiri juga tidak begitu mengerti, mengapa aku harus melakukan semua ini? Maksudku, mengapa harus kehancuran?”
            Lyarin menoleh pada Gamnaron, sepertinya ia setuju. Dan kemudian, ia mengalihkan pandangannya pada Azraliel, berharap pria yang tenang tapi menghanyutkan itu mau memberi penjelasan.
            ”Aku sendiri bertanya, mengapa aku?” Kata-kata Azraliel yang disampaikan dengan pelan tapi tegas itu mampu mempengaruhi kedua temannya.
            Gamnaron merasa tersindir, orang yang selama ia yakin paling mengerti dengan tugas dari dewa ini ternyata juga mengalami kebimbangan seperti dirinya.
            Sementara itu Lyarin justru setuju dengan Azraliel, mengapa dirinya yang dipilih. Bukankah masih banyak yang lebih baik dan lebih pantas, begitu pikirnya. Ia selalu merasa tidak tega untuk melakukan penghancuran yang ditugaskan padanya dan kedua rekannya, meskipun ia tahu bahwa ia harus.
            ”Para dewa yang memilih, dan merekalah yang tahu alasannya. Sudahlah, kalian terlalu memikirkannya, kalian tidak fokus.” Kata Azraliel lagi.
            Setelahnya Gamnaron dan Lyarin tak lagi bicara. Meskipun masih sulit untuk tidak memikirkan hal ini, mereka mencobanya. Dan mungkin salah satu caranya adalah dengan meniru Azraliel, diam. Selama ini memang hanya Lyarin dan Gamnaron yang sering mengobrol dan saling terbuka. Azraliel sendiri hanya bicara seperlunya, dan jika diminta, juga tak pernah mengobrol. Bahkan jika ia diajak sekalipun, jawabannya selalu singkat dan padat, meski terkadang malah tidak jelas.
            ”Kita akan berhenti di bukit di selatan Eycalistreum. Dan kita hanya akan punya beberapa jam sebelum matahari terbit.” Perintah lainnya dari Azraliel, dan seperti biasa, kedua rekannya mengangguk setuju.
            Akhirnya, ketiga Namsaryan itu berhasil melewati bekas kota Vahren tanpa terlihat. Pemandangan menyedihkan kota itu mulai tertutupi oleh keperkasaan pegunungan Hazaira yang memanjang ke utara lalu membelok ke timur. Lyarin menutup matanya sebentar, waktu renungan sudah berakhir, sekarang saatnya menatap ke depan dan fokus pada tujuan berikutnya.
***
            Setelah berjam-jam perjalanan udara yang melelahkan dan dingin, akhirnya mereka tiba juga. Daerah berumput dengan pepohonan muda yang renggang dipilih menjadi tempat beristirahat kali ini. Tak banyak yang mereka lakukan di sana. Sedikit air dan camilan, lalu langsung merebahkan diri menanti hari esok.
            Mata Azraliel mungkin sudah terpejam, tapi pikirannya masih terjaga. Ia memang memiliki pribadi yang pendiam, tapi setidaknya ia mampu mengatasi segala masalahnya sendirian. Ketika yang lain saling membicarakan dan mencari solusi bersama, ia memikirkan sendiri jalan keluar bagi setiap masalahnya. Ia juga termasuk orang yang berpendirian teguh, yang terkadang membuatnya terlihat anti terhadap semua alasan kesalahan.
            ”Mereka bertanya, mengapa harus kulakukan.” Gumam Azraliel. ”Ivayrlan, jika aku jadi kau, jawaban apa yang akan kuberikan?”
            Azraliel membuka matanya, dan terlihatlah olehnya pemandangan indah bintang-bintang. Ia berpikir sejenak, mencoba mencari jawaban untuk pertanyaan yang satu ini. Ketika ia memejam matanya lagi, ia teringat sesuatu, yang mungkin berkaitan dengan yang tengah ia cari saat ini. Ia ingat saat ia tiba-tiba berada di sebuah jembatan di dalam ruangan batu berukiran.
            Ruangan itu terbuat dari batuan berwarna coklat. Dan ada sekitar dua belas obor yang menempel pada dinding yang melingkar. Dasar dan langit-langit ruangan itu tak terlihat, hanya gelap. Sebuah suara tiba-tiba muncul entah dari mana. Masih membekas cukup jelas dalam otaknya, percakapan yang terjadi kala itu.
            ”Aku sudah muak dengan perang, aku tak ingin berurusan dengan perang lagi!” Azraliel masih ingat betapa kerasnya ia mencoba menolak ajakan suara misterius itu.
            ”Kau tak ingin menghentikannya?”
            Saat itu ia merasa tersinggung, tapi ia tetap keras kepala. ”Mengapa tidak kau saja? Aku tahu, kau pasti dewa bukan?”
            ”Tidak akan bisa, sudah terlambat.”
            ”Kau salah orang, tidak seharusnya kau melibatkan orang sepertiku. Mengapa tidak kau pilih saja Ayahku? Dia orang hebat.”
            ”Dia sudah mempunyai tugas.”
            ”Aku juga sudah muak dengan tugas, cari saja orang lain! Ada milyaran Namsaryan tersebar di seluruh penjuru dunia, bukan hanya aku saja.”
            ”Entah kau terima tugas ini atau tidak, bangsa Namsaryan memang akan mati. Tapi Tridalry masih bisa diselamatkan dan generasi baru akan lahir.”
            ”Dan jika tidak kuterima, Tridalry juga akan mati begitu?”
            ”Ya, Tridalry akan mati, dan seluruh kehidupan di atasnya juga ikut musnah, dan tak bisa lahir generasi baru.”
            Azraliel membuka matanya, kembali dari kenangan masa lalu. Sepertinya ia menemukan sesuatu, meski raut wajah masih menunjukkan sedikit kebingungan. ”Tridalry, huh? Oh ya, benar juga.” Sekarang raut mukanya sudah mulai yakin. Ia lalu menggerakkan tangannya, dan menyentuh tanah di dekatnya yang berumput. ”Aku hanya harus lebih bersyukur dan berterima kasih padamu, bumiku. Tapi, aku masih tidak mengerti. Mengapa ia mengatakan kau mati, bukannya, kau hancur atau semacamnya? Ah, sudahlah. Lagipula aku juga berpikir bahwa kau memang hidup.” Ia memejamkan matanya kembali, dan karena ia sudah puas dengan jawaban atas pertanyaannya, kali ini ia benar-benar tidur.
***
            Matahari terbit redup. Sudah cukup tinggi tapi sang mentari masih merah padam. Pemandangan langit dan sekitar pun menjadi kuning kemerahan.
            Ada sebuah buku di tangannya, bersampul tebal berwarna gelap. Sambil berjalan melewati jalanan kota, ia menatap buku yang dipegangnya di perutnya itu. Ia lalu membuka dan membacanya. Tapi tak berselang lama, kakinya tersandung sesuatu dan ia hampir jatuh. Ada potongan kayu berwarna gelap. Ketika diarahkan padangannya yang mulanya ke bawah itu ke depan, terkejutlah ia. Potongan kayu yang seperti itu berserakan dimana-mana di sepanjang jalan. Dan disampingnya, berjajar dengan pondasi yang masih tertanam rapi, bangunan-bangunan yang sudah tak lagi utuh. Hancur.
            Dengan mata melotot, nafas serta detak jantung yang kencang, ia berjalan mundur seperti hendak melarikan diri. Tapi sayangnya, ia malah terjatuh karena tersandung sesuatu. Ia menoleh ke belakang, berharap sesuatu yang membuatnya tersandung itu tidak akan menjadikan dirinya seperti bangunan-bangunan di sini. Syukurlah, hanya potongan kayu lainnya. Ia lalu berdiri, dengan pandangan yang berubah-ubah ke segala arah.
            Ia sempat melihat ke sebuah bangunan, yang juga telah hancur. Di depannya ada patung batu. Berwujud seorang lelaki gagah berjubah yang tangan kirinya memegang buku yang terbuka dan tangan kanannya menengadah ke depan. Sayangnya patung itu patah di bagian kakinya dan sekarang terbaring tak berdaya di depan sebuah sisa bangunan besar.
            Ia berlari sekuat yang ia bisa, ke arah yang ia yakini akan membawanya keluar dari kota, yang sekarang tinggal reruntuhannya saja. Seolah-olah sang penghancur masih ada di kota, ia terus berlari meskipun ia sendiri juga tidak yakin akan keselamatannya di luar sana. Sebenarnya ia berlari pada jalan lebar yang lurus, tapi berkali-kali ia harus membelok bahkan melompat untuk melewati puing yang berserakan. Masih sangat jauh, dinding terluar kota, yang mungkin juga sudah hampir rata dengan tanah masih terlihat kecil. Pada akhirnya, lelah tetap datang juga walau ia terus diburu rasa takut. Ia mencoba berhenti, dan terjatuh pada lututnya. Tangan kanannya menumpu pada jalan sementara tangan kirinya memegangi dadanya yang mulai sesak.
            Masih dalam keadaan terengah-engah, ia melihat pancaran cahaya putih dari arah belakang. Sinar itu menguat, dan memancing keingintahuannya. Ia menoleh, dan tak perlu waktu lama hingga ia menutupkan tangan kirinya ke wajahnya karena silau. Hanya putih di sana, sedetik kemudian ia tak sanggup lagi membiarkan kelopak matanya terangkat. Dan gelaplah kembali.
***
            Awan merah sudah terlihat, dengan latar langit biru yang masih gelap. Azraliel membuka matanya dengan cepat bersamaan dengan sebuah hembusan nafas, seolah nyawanya baru saja kembali secara tiba-tiba. Ia lalu menolehkan wajahnya ke arah utara, dan ia dapati kedua temannya sudah terbangun, duduk dan memperhatikan sesuatu. Tak mau ketinggalan, ia segera berdiri dan mendekati mereka.
            Lyarin mengamati wajah Azraliel, yang seperti biasanya, hampir tanpa ekspresi. Ia menatap Azraliel dengan heran, karena biasanya Azraliellah yang pertama kali bangun. Seperti kebanyakan perempuan pada umumnya, beragam pertanyaan dan perkiraan jawaban melintas di pikirannya. Tapi tidak seperti biasanya, ia mengurungkan niatnya untuk membicarakan hal tersebut.
            ”Aku baik-baik saja, Lyarin. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan.” Tampaknya Azraliel menyadari tatapan tidak biasa yang diarahkan padanya. ”Itu hanya, mimpi biasa.”
            ”Tapi, terkadang seseorang akan bermimpi, jika ada sesuatu yang sangat ia pikirkan.” Sepertinya Lyarin belum puas.
            ”Tidak, aku tak akan bisa tidur jika masih berpikir.”
            ”Oh.” Kini Lyarin diam. Sepertinya jawaban Azraliel yang singkat itu juga membawa pesan bahwa ia sedang tidak ingin banyak bicara, seperti biasanya.
            Azraliel berhenti berjalan beberapa langkah di depan kedua temannya. Sama seperti mereka, ia juga ikut memperhatikan dan mengamati pemandangan di utara yang agak tertutup beberapa pohon. Di sana, terdapat hamparan luas daratan hijau yang dibelah sungai, dan dikepung oleh laut serta pegunungan. Dan di atas hamparan padang luas itu, menutupi hampir seperempat luas seluruhnya, terdapat gundukan yang pendek berbentuk lingkaran. Lalu di atas gundukan itu, berdirilah sebuah kota besar yang kini menjadi sasaran Azraliel dan kedua rekannya. Eycalistreum.
            Gamnaron bangkit berdiri, dan berjalan mendekati Azraliel. Melihatnya, Lyarin juga mengikuti. Ia berdiri tepat di samping Azraliel. ”Sudah hampir waktunya.” Katanya datar.
            ”Sudah lima belas tahun, kehidupan para Namsaryan terusik oleh perang. Perang yang muncul hanya karena nafsu segelintir golongan. Dan selama itu, Namsaryan di seluruh dunia tak bisa menikmati hidup mereka dengan tenang dan tenteram, kecuali mereka yang di sini.” Pandangan Azraliel masih lurus ke kota itu. Ada sebuah perasaan halus yang terpancar dari matanya, rindu. Mulutnya juga agak tersenyum.
            ”Tapi perang ini antar Namsaryan, bagaimana bisa menyebabkan kehancuran dunia?” Tanya Gamnaron.
            ”Setiap saat, sejumlah energi mengalir ke dunia ini. Berkat energi inilah kita bisa menggunakan kekuatan istimewa kita sebagai bangsa Namsaryan, kekuatan Nansyar. Tapi energi ini juga digunakan oleh para dewa dan bumi kita. Akibat perang yang bertahun-tahun ini, energi ini menjadi sedikit. Dan jika dibiarkan, mungkin akan habis, padahal bumi kita juga membutuhkannya.”
            ”Oh, dan aku dengar Eycalistreum sama sekali tidak melibatkan diri dengan perang ini. Jika mereka tahu tentang kehancuran ini, bukankah seharusnya mereka melakukan sesuatu?” Tanya Gamnaron lagi.
            ”Jika berperang, yang akan mereka dapatkan adalah kemenangan atau kekalahan, dan yang manapun yang mereka dapatkan, mereka akan tetap rugi. Bahkan masalahnya bisa saja bertambah rumit. Dan mereka juga tidak tahu tentang kehancuran dunia. Itulah yang kurasakan ketika aku masih bersama mereka.”
            ”Jadi mereka tidak berperang, lalu apa yang mereka lakukan?”
            ”Aku tidak tahu.” Jawab Azraliel. ”Sejak aku dipaksa menjadi prajurit, aku tidak pernah bisa tenang. Bayang-bayang kematian selalu hadir di sana. Dan akhirnya aku memilih kabur, dan sebisa mungkin mengasingkan diri dari perselisihan apa pun.”
            Hening untuk beberapa saat, hingga Lyarin ikut bersuara dengan nada agak menuduh. ”Kau yakin bahwa mimpimu tadi hanya mimpi biasa?”
            Azraliel menoleh ke kanan ke arah Lyarin, dengan tatapan yang dingin karena merasa terganggu.
            Sebagai perempuan yang sensitif, ia langsung memalingkan pandangannya ketika mata Azraliel tepat mengarah ke matanya. Tapi kemudian, ia kuatkan dirinya. Tak bolehkah aku bertanya, begitu pikirnya. ”Mungkin saja penting, kau tidak akan tahu.” Kini giliran Lyarin yang menatap tepat ke mata Azraliel.
            Azraliel berkedip, dan meluruskan kembali wajahnya ke utara. ”Hanya puing dan kehancuran, sama seperti yang sudah sering kulihat beberapa hari ini.”
            ”Selain itu?” Kata Lyarin lagi masih dengan wajah penuh ingin tahu.
            Azraliel diam, dan mengerutkan dahinya. Tampaknya ia agak lupa.
            ”Sudahlah, tak akan berpengaruh. Misi kita hampir selesai.” Potong Gamnaron. ”Sekarang, kita juga harus berpikir...”
            ”Kau dengar itu?” Potong Azraliel tiba-tiba. Kini Azraliel terlihat berpikir keras, sambil matanya digerakkan ke segala arah di depannya mencari sesuatu.
            Lyarin juga bertindak demikian, sementara Gamnaron malah menunjukkan raut kebingungan.
            ”Menurutmu, seseorang memanggilmu?” Tebak Lyarin.
            ”Kau benar, sebuah panggilan.” Seketika, Azraliel terlihat lebih tenang, dengan pandangan kembali ke utara tapi sedikit lebih mendongak. ”Kau ingin bicara denganku?”
            ”Seperti yang kuduga, kalian datang juga mengunjungi kotaku.” Sebuah suara tua misterius tiba-tiba muncul. Sumbernya dari utara mereka, yang saat ini tengah mereka pandangi.
            Sebelum menjawab, Azraliel sempat melirik ke pusat Eycalistreum jauh di bawah sana, yang dari tempatnya berdiri agak tertutup dedaunan hijau pohon. Ia lalu merasa bahwa tebakannya benar. ”Jadi, kau berbicara atas nama penduduk Eycalistreum?”
            ”Dan bukankah kau seharusnya sudah tahu kalau kau tidak diundang, Vyo Qoforzas?” Terdengar adanya tekanan lebih pada kata terakhir.
            ”Namaku bukan Sang Penghancur, jika kau tidak keberatan.” Protes Azraliel.
            ”Kau akui atau tidak, kau tetap tidak diterima. Dan kau tidak akan masuk!”
            Azraliel tersenyum. ”Eycalistreum memang kota yang terbentengi dengan sangat baik. Lima lapis dinding raksasa, dengan puluhan menara, ratusan ballista serta trebuchet, dan sistem pertahanan lainnya yang sangat kukagumi. Tapi aku datang bukan untuk itu, aku hanya perlu ke menara Tridalry, beberapa saat. Setelah itu, kita pergi.”
            ”Jangan pernah berpikir kau bisa terbang ke sana.” Kali ini suara itu terdengar meremehkan.
            ”Oh, aku lupa. Kau membicarakan Halvain, bukan? Gelembung pelindung itu tak bisa menghentikanku saat ini. Aku sudah tahu rahasianya, lagipula benda transparan itu sudah tidak sekuat dulu lagi.”
            ”Aku bisa melihat, bahwa kau memang bertambah kuat. Tapi kau menyia-yiakannya, kau seharusnya menggunakannya untuk hal yang lebih baik.”
            ”Tak ada hal yang lebih baik dari yang kulakukan saat ini, kau akan menyadarinya nanti cepat atau lambat, Ayah!” Akhirnya, setelah diam-diam terus melacak, kini Azraliel tahu siapa yang bicara padanya.
            Untuk beberapa saat, suara itu seperti menghilang. Dan Lyarin pun berkomentar, ”Kau yakin dia ayahmu?”
            Belum sempat terjawab, suara itu muncul lagi. ”Anakku tidak bisa membunuh, bahkan melukai saja ia takut. Kau bukan dia!”
            ”Satu kematian lebih baik dari dua kematian. Sekarang sudah sangat terlambat, Ayah. Kita tak bisa menyelamatkan keduanya, dan tentu saja kita juga tidak akan membiarkan keduanya.”
            ”Katakan, jika memang kau masih anakku, siapa yang mengubahmu?”
            Azraliel diam sejenak. ”Kau benar-benar ingin tahu?”
            ”Katakan, siapa yang mengutusmu?”
            ”Oh, aku mengerti. Kuharap dengan mengetahui namanya kau akan lebih mengerti terhadap tindakanku.” Azraliel mengambil sebuah nafas. ”Namanya, adalah Ivayrlan!”
***
            Matahari kini telah nampak terang dan bulat setelah beberapa lama bersembunyi di balik lingkar timur pegunungan Hazaira. Cuaca yang indah pagi ini, dengan awan yang tidak banyak bertebaran. Sayangnya, ini adalah pagi terakhir para manusia terpilih itu.
            ”Lebih tinggi, teman-teman!”
            Ketiga Namsaryan itu kini tengah terbang menuju pusat Eycalistreum. Dan tidak lama lagi, mereka akan memasuki wilayah udara kota besar itu. Di bawah mereka, berjajar dengan rapi lima baris dinding besar dengan menara-menara yang tinggi dan beberapa bercahaya. Tak terlihat di depan mereka, bola gelembung pelindung besar yang disebut Halvain berdiri dengan kokoh. Jika mereka tidak menambah ketinggian, mereka akan menabraknya.
            ”Ya ampun. Bahkan dari atas awan, Eycalistreum masih terlihat sangat besar.” Kata Lyarin.
            ”Kau benar.” Balas Gamnaron. ”Ini seperti, eh, entahlah apa namanya.”
            ”Yang juga menakjubkan, kota ini bisa benar-benar berdiri sendiri. Kayu dari hutan di selatan, makanan dari ladang pertanian yang luas di luar kota, dan ada juga laut di utara.” Tambah Lyarin sambil terus memandangi sebagian dari jutaan atap di bawah sana.
            ”Dan tambang juga.” Tambah Gamnaron.
            ”Oh ya? Aku baru tahu.”
            ”Tentu saja ada. Di Pegunungan di bagian tenggara, dekat hutan.”
            ”Oh, ngomong-ngomong, benda apa itu? Yang banyak dan bergerak!” Lyarin melihat ada banyak bintik-bintik gelap yang tersusun rapi dan tampaknya bergerak di atas bangunan-bangunan kota.
            Gamnaron memicingkan matanya. Ia lalu bicara setelah mengamati sejenak. ”Itu seperti, sesuatu yang terbang. Besar, sesuatu besar yang terbang.”
            ”Mungkin itu para penunggang naga.” Kata Azraliel tiba-tiba.
            ”Hah?” Gamnaron menoleh ke arah Azraliel dengan dahi berkerut, lalu ia menatap kembali ke benda itu dan mengamatinya lagi. ”Kau yakin? Ada, banyak sekali. Astaga, kota ini punya jauh lebih banyak naga dari yang kukira.”
            ”Kota ini besar, tentunya memiliki pasukan yang banyak pula. Dan masih ada banyak juga jenis pasukan lainnya di bawah sana. Tapi tidak usah dipedulikan, kita tidak akan mengurusi mereka.” Sejak sedari tadi, Azraliel bicara tanpa menoleh sama sekali. ”Dan sekarang lihatlah, kita sudah sampai.”
            Tiga titik hitam kecil, yang hampir terlihat menyatu, sudah ada di bawah mereka. Ya, itulah menara Tridalry. Ketiga menara kembar ini berwarna hitam legam, dan memiliki puncak kerucut. Posisi menara tertinggi di kota ini membentuk segitiga sama sisi, dengan jarak antar menara sama besar dengan diameter masing-masing menara.
            Azraliel menghentikan lajunya, dan ia pun diikuti oleh kedua temannya. Azraliel berbalik, menghadap ke arah kedua rekannya yang tengah memandang ke bawah. Tak lama kemudian, mereka membalas tatapan Azraliel, dan berbenah.
            Gamnaron mengangguk. ”Sudah saatnya!”
            Azraliel segera mengepalkan tangannya yang sudah terlapisi metal disertai pendaran ungu. Ia memanggil kekuatan yang ada dalam tubuhnya untuk memperkuat kukuatan Nansyarnya. Pendaran ungu, di tangan dan di punggungnya membiru. Azraliel lalu mengeluarkan pendaran belati biru yang melekat di masing-masing ruas jarinya, yang kemudian terlihat seperti cakar. Belati-belati itu terus bertambah panjang, hingga cakar birunya berukuran berkali-kali panjang tubuhnya. Setelah itu, ia menghadapkan tubuhnya ke arah menara Tridalry. Tapi belum lama berselang, ia sudah menolehkan wajahnya lagi ke kedua rekannya. ”Bersiaplah!”
            Azraliel turun dengan pelan, tidak jauh. Beberapa saat setelah berhenti ia mulai mengayunkan tangannya. Mulanya ia terlihat seperti hendak mencakar udara kosong, tapi kemudian terlihat bahwa ada sesuatu di sana. Garis dan pendaran hijau muncul pada bekas sayatan cakarnya. Dan semakin dicakar, semakin banyak garisnya dan semakin tebal pendarannya. Butuh beberapa lama sebelum akhirnya terlihat sebuah lingkaran yang berpendar hijau di depan Azraliel. Pada saat ini, barulah ia menghentikan ayunan tangannya.
            Tapi ini belum berakhir. Cakar birunya sudah hilang, dan sekarang tangan Azraliel mengepal kembali. Ia terlihat seperti meremas sesuatu dengan sangat keras. Ketika remasan itu sudah tidak bisa diperkuat lagi, sebuah ledakan udara tiba-tiba terbentuk di depan lingkaran yang berpendar hijau itu. Gelombang kejut yang dihasilkannya menghamburkan pendaran hijau itu seperti angin menghamburkan debu. Yang tersisa sekarang adalah, lingkaran yang masih berpendar hijau pada pinggirnya tapi kosong di tengahnya. Halvain berhasil ditembus.
            Gamnaron dan Lyarin segera mengikuti begitu mereka melihat Azraliel menjatuhkan dirinya ke lingkaran itu. Mereka juga mendorong diri mereka lebih kuat agar bisa dekat dengan Azraliel yang sudah terjun lebih dulu. Posisi mereka seperti menyelami samudera udara yang menyelimuti seluruh bumi. Bersama-sama, mereka terjun bebas dari ketinggian awan menuju puncak menara Tridalry.
            Angin terasa berhembus sangat kencang. Bahkan mata terasa agak sakit karena air mata menguap jauh lebih cepat tersapu angin. Rambut dan pakaian juga berkelebat dengan hebatnya, hingga bersuara.
            ”Teman-teman, akhirnya kita sampai juga di penghujung misi, dan hidup kita. Semua akan berakhir tidak lama lagi. Jika ada yang ingin kalian katakan, atau tanyakan lakukanlah sekarang!” Kata Azraliel sambil memandangi kedua temannya secara bergantian.
            Yang ditanya malah diam. Sepertinya situasi seperti ini terlalu serius bagi mereka, atau mungkin mereka juga sedang merenungkan sesuatu. Keadaannya tetap seperti ini hingga Azraliel sendiri hendak berkata sesuatu. Tapi tepat sebelum Azraliel berbicara, Lyarin menyampaikan yang ada di pikirannya.
            ”Eh, aku hanya ingin tahu, tadi kau berkata tentang Ivayrlan, dan juga sesuatu yang membingungkan tentang Tridalry, sebenarnya apa yang kau maksudkan?” Lyarin bertanya pelan.
            Azraliel tersenyum sebelum menjawab. Sebuah kenangan tiba-tiba muncul di pikirannya. ”Sebenarnya, aku tidak tahu siapa itu Ivayrlan. Bukahkah seharusnya kalian juga sudah bertemu dengannya?” Azraliel lalu menatap kedua rekannya. ”Belum ya? Baiklah akan kuceritakan yang kualami!”
            Semakin ia menceritakan nama Ivayrlan, semakin ia ingat dengan nama itu. Kenangan itu semakin lama semakin kuat. Dan ia pun mulai bercerita berdasarkan kenangannya ini. Yaitu saat-saat yang menurutnya paling menyentuh, dan menemtramkan hatinya. Saat-saat dimana mereka berbicara tentang penciptaan.
            ”Aku sudah punya keputusan. Tidak!” Saat itu Azraliel masih keras kepala. Ia lalu berpaling dan berjalan ke arah yang menurutnya akan membawanya keluar.
            ”Tolong dengarkan, wahai ciptaanku!” Kata suara itu setelah agak lama.
            Azraliel terhenti. Tiba-tiba saja hatinya terasa seperti ada yang mengetuk, dan otaknya seperti ada yang menyiramkan air dingin yang seketika itu juga membuatnya tenang. Segala emosi yang sudah menggunung saat itu juga hancur lebur. Kini, Azraliel bahkan berkenan untuk berbalik. ”Kau, penciptaku?”
            ”Mendekatlah, Araliel!”
            Azraliel tak menjawab, ia hanya menuruti perintah suara itu. Suara itu bisa saja berbohong, tapi entah mengapa hati Azraliel begitu mempercayai suara itu.
            ”Aku Ivayrlan, pencipta Namsaryan. Pemimpin para dewa. Mungkin kau akan mengerti pentingnya tugas ini, jika kau mengerti alasanku mengutusmu.”
            Azraliel masih diam seribu bahasa. Ia tak sanggup berkata-kata.
            ”Kami, para dewa adalah tergolong makhluk-makhluk yang pertama diciptakan. Kami melihat sendiri bagaimana Tuhan Yang Agung menyempurnakan alam semesta ini, lalu menciptakan manusia. Karena itulah, kami para dewa juga ingin menciptakan sesuatu. Kami lalu menghadap langsung dengan Tuhan Yang Agung dan memohon kepadanya. Tuhan menolak, tapi para dewa tetap bersikeras. Kami lalu berkumpul dan bersama-sama memohon. Aku termasuk di dalamnya, meskipun aku tidak ikut memohon atau berbicara. Sekali lagi Tuhan menolak. Sayangnya, para dewa begitu keras kepala dan tetap tidak mau menyerah. Aku melihat mereka berkumpul merencanakan sesuatu ketika aku merasakan adanya panggilan. Tuhan memanggilku menghadap-Nya. Saat itu aku tertunduk, aku tidak berani menatap wajah-Nya yang diliputi sinar sangat terang, terlebih lagi aku sedang sendirian. Tuhan lalu berkata bahwa kami hanya bisa menciptakan, tapi tak bisa mengendalikan. Aku setuju dengan itu, tentu saja. Lalu Tuhan berkata lagi bahwa jika kami masih tetap ingin menciptakan sesuatu, ada syaratnya. Yaitu ciptaan kami tidak boleh hidup lama, atau ciptaan kami itu akan menimbulkan kekacauan. Selain itu, aku juga harus menjadi pemimpin para dewa. Aku sendiri menolak, tapi Tuhan tidak memberi pilihan lain. Dan ketika aku umumkan, mereka semua langsung setuju. Dan aku pun terpaksa menerima jabatan memimpin ini. Setelah mengizinkan kami, Tuhan tak lagi ikut campur, bahkan kami tak bisa lagi menghadap-Nya. Dan sebagai pemimpin akulah yang harus memikirkan syarat pertama, yaitu bagaimana agar ciptaan para dewa tidak hidup terlalu lama. Dari alasan itulah aku menciptakan kalian, Namsaryan. Kalian sebenarnya aku ciptakan dengan tugas untuk membunuh atau memusnahkan tiap ciptaan dewa yang sudah habis masa hidupnya.” Suara itu memelan, dan terhenti.
            Azraliel menunduk, dan berpikir agak lama. ”Kupikir sekarang aku mulai mengerti.”
            ”Ciptaan para dewa lainnya ditanam di dunia manusia. Kelak, ciptaan itu akan bangkit satu per satu. Lalu seharusnya adalah tugas kalian untuk mengakhiri ciptaan-ciptaan itu sebelum timbul kekacauan. Tapi aku sendiri lupa, bahwa aku juga seorang dewa. Dan ciptaanku, yaitu kalian juga tidak boleh hidup lama. Karena seperti yang Tuhan katakan, kini kalian membuat kekacauan. Dan ...”
            ”Dan adalah tugas kami untuk mengakhirinya. Ya, aku mengerti sekarang.”
            ”Aku senang kau mengerti, Azraliel.”
            ”Tapi jika Namsaryan mati, siapa yang akan memusnahkan ciptaan dewa yang sudah ditanam?” Tanya Azraliel.
            ”Melihat kekacauan yang kubuat, Tuhan berkenan mengurusi semuanya, tapi masalahku tetap harus aku selesaikan sendiri.”
            ”Jadi, ada Tuhan yang Maha segalanya di atas sana, jika memang Ia sanggup, mengapa Ia tidak ikut mengurusi sejak awal? Mengapa Ia diam saja?” Azraliel masih penasaran.
            ”Ada alasan yang aku tidak tahu, tapi sejauh yang kudapat, Ia ingin agar kami mengambil pelajaran.”
            ”Dan, kenapa ciptaan para dewa itu tidak ditempatkan di dunia yang terpisah dengan manusia? Di dunia ini, mungkin. Bersama kami para Namsaryan?” Azraliel masih penasaran.
            ”Beberapa ciptaan sudah ditanam di dunia ini, tapi itu tidak cukup. Dan kami tidak punya cukup keahlian dan kekuatan untuk menciptakan sesuatu yang sebesar dunia. Dunia ini aku ciptakan dengan bekal pemberian Tuhan, dan juga bantuan dari beberapa dewa lainnya.”
Lalu untuk sesaat Azraliel diam. ”Baiklah, aku akan ambil tugas ini. Aku akan melakukannya.”
            ”Keputusanku adalah mengganti seluruh Namsaryan dengan manusia biasa. Sebenarnya, sistem alam semesta yang Tuhan ciptakan mungkin dapat menyesuaikan diri dengan jumlah Namsaryan yang terbatas, tapi aku putuskan untuk mengakhiri saja semuanya. Tuhan menyetujuinya dan memberiku kekuatan untuk mempercepat proses ini, yang kemudian harus aku berikan padamu. Mendekatlah!”
            Azraliel berjalan lagi, dan dengan tiap langkah yang ia lakukan, kenangan ini memudar. Dan akhirnya Azraliel melihat kembali dirinya bersama kedua rekannya terjun bebas di langit Eycalistreum. ”Ia lalu memberiku bola cahaya hijau, yang ketika kusentuh langsung meresap ke dalam tubuhku. Kalian, juga mendapatkannya bukan?”
”Bola hijau itu? Ya, aku juga mendapatkannya.” Komentar Gamnaron.
”Aku juga.” Sahut Lyarin.
”Setelah memberikan bola cahaya itu serta cara memakainya, ia memberiku kekuatan lain. Dan akhirnya, aku keluar dan bertemu kalian.” Azraliel diam sejenak, untuk mengamati Gamnaron dan Lyarin yang terlihat belum puas dengan ceritanya. ”Sepertinya sudah cukup ceritanya untuk Ivayrlan. Sekarang akan kuberitahu sedikit yang kuketahui tentang  Tridalry. Tridalry dapat berarti tiga tanduk, tiga menara, atau tiga tiang atau semacamnya. Tapi sebenarnya, Tridalry adalah bumi kita. Sebenarnya aku  ...”
Tiba-tiba saja, Azraliel merasakan refleks tubuhnya terpicu. Rambut-rambut halus di lehernya terasa menerima rangsangan yang cepat dan mengirimkan tanda bahaya. Wajahnya yang santai langsung berubah tegang, matanya terbuka lebih lebar, dan mulutnya berhenti bicara. Hanya sepersekian detik setelah perasaan itu muncul, tubuh Azraliel bergeser dan memutar. Dan pada sepersekian detik berikutnya, Azraliel merasakan adanya benda panjang yang melesat sangat cepat di dekat punggungnya. Menyadari hal itu, refleks Azraliel membuatnya menengok ke arah benda itu melesat. Sudah tak ada apa-apa di sana, hanya langit biru. Ia pun segera menoleh kembali ke depan, dan mendapati banyaknya bentuk palang hitam yang bergerak dalam barisan yang rapi.
”Apa itu tadi?” Tanya Gamnaron dengan mimik terkejut.
”Sebuah panah, para penunggang naga itu hebat juga. Aktifkan pelindung, teman-teman!”
Perisai ungu berbentuk lonjong terbentuk melingkupi masing-masing mereka. Perisai itu lalu bersinar dan akhirnya berubah warna menjadi biru. Beberapa saat kemudian, mereka melihat banyak titik-titik ungu yang bermunculan di belakang barisan penunggang naga. Titik-titik itu semakin jelas dan oh, ternyata itu adalah panah yang ditembakkan. Karena banyaknya panah ungu yang melesat ke arah mereka, mereka berusaha bergerak sebisa mungkin untuk menghindari puluhan panah itu. Sebenarnya mereka masih terkena beberapa tembakan, tapi untunglah pelindung mereka masih cukup kuat menahannya.
Puluhan penunggang naga yang terbagi dalam beberapa batalion menembakkan panah mereka secara bergantian ke arah Azraliel dan kedua rekannya. Lyarin bisa saja menembak jatuh mereka satu per satu, tapi ia lebih memilih untuk terus menghindar bersama Azraliel dan Gamnaron.
Beberapa detik kemudian, masih dalam keadaan dibombardir panah oleh para penunggang naga, Azraliel merasakan kehadiran seseorang yang kuat di bawah sana. Ia belum mengidentifikasi lebih jauh siapa orang yang berdiri di puncak Tridalry itu, tapi ia yakin ia tahu. ”Ayah!”
Azraliel lalu merasakan adanya kekuatan lain yang sebelumnya pernah ia rasakan. Dan tiba-tiba saja, sebuah suara muncul. ”Kita berdua punya tugas masing-masing, Anakku. Lakukan saja tugasmu, dan aku akan senang mati dalam tugasku!”
Azraliel mulanya tak begitu paham. Tapi kemudian, ia melihat adanya bintik ungu yang membiru muncul dari salah satu puncak menara Tridalry. Bintik yang kini biru itu semakin mendekat. Sekarang Azraliel paham. Tugasnya berkebalikan dengan ayahnya yang ditugaskan untuk melindungi Eycalistreum dari ancaman apapun. Tapi sang ayah juga mengizinkan dan rela dirinya melaksanakan tugasnya. Karena itulah, Azraliel mengikuti jejak ayahnya. Dengan menggunakan kekuatannya, ia menambah kecepatan jatuhnya hingga dua kali lipat, meinggalkan kedua rekannya jauh di belakang. Ia lalu menyiapkan cakar birunya, dan bersiap untuk bertarung dengan ayahnya.
Azraliel tahu betul bahwa ayahnya adalah orang hebat. Bagaimanapun, ia tak akan meremehkannya. Ia menyiapkan seluruh kekuatan yang masih dimilikinya, dan mengaktifkan kekuatan dahsyat yang pernah ia gunakan untuk menghancurkan kota-kota sebelumnya. Seluruh pendaran birunya, entah di cakar, tangan atau punggung langsung menghilang, tak tampak.Azraliel terlihat seperti tak mengaktifkan kekuatan Nansyarnya, tapi tangannya masih diselimuti metal.
Kecepatan terbang sang ayah menurun, sepertinya ia cukup terkejut dengan kekuatan tak terlihat anaknya. Tapi mereka berdua tetap saling mendekat, dan pertarungan tak terelakkan tetap terjadi.
Dengan sangat yakin Azraliel mengayunkan cakar tak terlihatnya. Sementara sang ayah, karena cukup terkejut dengan kekuatan baru Azraliel lebih memilih membuat tameng. Benturan dahsyat antara Azraliel dan ayahnya yang saling mendekat dalam kecepatan tinggi menghasilkan gelombang kejut yang cukup kuat. Gelombang bulat ini menyebar dengan cepat, dan mengenai penunggang naga serta Gamnaron dan Lyarin. Para penunggang naga itu seperti mendapat dorongan tiba-tiba yang hebat. Para penunggangnya langsung terlempar dari pelana masing-masing, kecuali sedikit sekali dari mereka yang sudah sangat terlatih dan berpengalaman. Naga-naganya sendiri dapat segera menyeimbangkan diri mereka masing-masing dan melanjutkan terbang. Gamnaron dan Lyarin juga mendapat dorongan yang sama, tapi segera setelahnya mereka dapat mengendalikan diri masing-masing.
Pertarungan udara Azraliel dan ayahnya berlanjut. Azraliel terus mencakar, dan ayahnya terus terdorong hebat meskipun sudah membentuk tameng. Tapi akhirnya, ayah Azraliel beraksi juga. Dari senjatanya yang berupa tiga pipa berongga di masing-masing lengan bawah tangannya itu keluar panah biru. Dengan gesit Azraliel menghindar, lalu dengan cepat melancarkan serangan balasan berupa tusukan. Sang ayah bergeser sambil menangkis serangan Azraliel dengan satu tangan, lalu kembali melesatkan beberapa panah dengan tangan yang satunya ke arah anaknya itu. Sementara Azraliel sibuk menghindari tembakan panah biru itu, sang ayah melesat mendekat. Dari tiga pasang pipa berongganya itu keluar tombak kerucut biru yang bertindak seperti belati. Akhirnya, pertarungan jarak dekat dimulai.
Tak ada kekuatan elemen alam yang dipakai. Pertarungan ini murni hanya menggunakan kekuatan Nansyar masing-masing. Cakaran demi cakaran dilakukan. Azraliel memiliki kekuatan yang lebih besar, tapi tampaknya ayahnya yang sudah tua itu lebih gesit. Beberapa serangan berhasil mengenai tubuh Azraliel, begitu juga sebaliknya. Akhirnya sang ayah mendapat kesempatan lagi. Ia berhasil mendorong mundur Azraliel. Ia lalu membentuk bola biru pada kedua tangannya, menyatukannya lalu menembakkannya ke arah Azraliel. Bola biru itu melesat sambil meninggalkan jejak debu biru yang berputar. Untungnya Azraliel masih melihat serangan cepat ayahnya, dan berhasil menghindar. Azraliel tak mau kalah, ia lalu membentuk tiga pasang bola yang hampir transparan di sampingnya. Sang ayah yang baru pertama kali melihat ini tak berani mendekat. Begitu ketiga pasang bola itu selesai dibentuk, debu-debu ungu yang kemudian membiru berkumpul di tiap-tiap bola. Debu-debu itu membentuk tombak yang langsung melesat ke arah lawan. Spontan ayah Azraliel menghindar, dan karena sudah tahu fungsi dari keenam bola itu, ia menghindar sambil mendekat. Azraliel tak mau membiarkannya, dikerahkannya segenap kekuatannya pada bola-bola itu. Debu-debu biru pun terkumpul lebih cepat, membentuk tombak lalu melesat lebih cepat. Azraliel berhasil, dua tembakannya tepat sasaran dan menghancurkan tameng biru ayahnya yang kemudian tubuhnya dihantam tembakan bertubi-tubi dari bola Azraliel. Sang ayah mengerang, dan Azraliel tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Melihat anaknya kembali menyerang, sang ayah membuat tameng. Ia berjuang keras agar tameng itu bisa bertahan melawan cakaran tiada henti dari Azraliel. Sayangnya perjuangannya berakhir di sini, tamengnya hancur dan tubuhnya tertikam oleh serangan tusukan Azraliel. Tubuhnya jatuh perlahan saat Azraliel menarik kembali cakarnya.
”Maafkan aku, Ayah!” Azraliel berhenti, dan memandang ayahnya dengan sayu.
Sang ayah rupanya masih memiliki kekuatan. Ia memposisikan dirinya dan kembali melayang. Jarak dirinya dengan Azraliel sudah agak jauh sekarang. Sambil menahan sakit dari lukanya ia bersiap, lalu mendongak membalas pandangan Azraliel. ”Selesaikan tugasmu, atau kau takkan termaafkan. Hyaaa!” Dengan seluruh kekuatan yang masih tersisa, ia terbang naik ke Azraliel.
Azraliel terkejut ayahnya masih belum menyerah. Tapi kemudian ia paham, bahwa ayahnya tak akan menyerah. Dan bahwa ia juga harus menyelesaikan tugasnya, tapi untuk itu ia harus mengalahkan ayahnya dulu. Sekali lagi Azraliel mengikuti jejak ayahnya. Ia menjatuhkan diri menuju sang ayah, lalu berputar dan dengan kedua tangannya ia memberikan serangan terakhir.
Serangannya tepat sasaran. Wajah Azraliel mengarah ke belakang saat ia mengakhiri serangan berputarnya, dan sekarang posisinya masih belum ia rubah. Yang ia lihat saat ini adalah atap-atap Eycalistreum di bawah, lalu ada dinding panjang yang melengkung, diikuti hamparan dataran hijau dan diakhiri pegunungan yang berbatasan dengan langit. Azraliel tidak melihat ayahnya, tapi ia bisa mendengar erangan ayahnya yang memelan. Ia memejamkan matanya, dan menonaktifkan kekuatan dahsyatnya. Pendaran biru kembali terlihat di sekujur tertentu tubuhnya. Setelah itu, barulah Azraliel menolehkan pandangannya ke arah sang ayah.
Seperti yang sudah ia duga, tubuh ayahnya jatuh bebas mengikuti tarikan bumi. Sang ayah bergerak turun dan mengarah ke tanah kosong di antara ketiga menara Tridalry. Awalnya hatinya sedikit tergerak untuk terjun dan menolong sang ayah, tapi kemudian ia melihat ada satu penunggang naga yang terbang ke arah ayahnya. Azraliel sedikit lega, setidaknya tubuh ayahnya tidak akan hancur karena benturan dengan bumi.
”Azraliel!”
Suara ini terdengar tidak asing. Setelah menunjukkan ekspresi agak kaget,  Azraliel menoleh. Ternyata kedua rekannya sudah menyusulnya, dan kini menatapnya dengan pandangan yang sama sedihnya dengan yang pandangannya. Kali ini Azraliel hanya diam, dan menambah cemas Lyarin dan Gamnaron. Tak lama kemudian, Azraliel memalingkan kembali wajahnya. Ia lalu mengambil nafas cukup dalam, sambil menutup mata.
Azraliel cukup lama dalam keadaan seperti itu, hingga kedua rekannya berhasil mendekatinya. Lyarin diam terpaku, dengan mata yang basah. Sementara Gamnaron terbang lebih dekat dan mnyentuh pundak Azraliel.
”Teman?” Kata Gamnaron dengan pelan. Ia tahu perasaan Azraliel sedang kacau saat ini, dan ia tidak ingin memperparah keadaan. ”Mungkin kita harus menyelesaikan tugas ini secara damai. Kita jelaskan pada mereka.”
Wajah Azraliel yang semula tertunduk, terangkat sedikit. Ia juga sudah membuka kembali matanya. ”Terlalu lama, tugas ini harus diselesaikan sekarang.” Katanya pelan. Azraliel lalu menengadahkan tangan kanannya. Bintik cahaya hijau lalu muncul, dan membesar hingga seukuran dua kali bola mata manusia. Ia lalu menoleh pada Gamnaron. ”Ya, sekarang!” Azraliel lalu menjatuhkan dirinya.
Gamnaron lalu memberi isyarat pada Lyarin bahwa tugas ini tetap dilanjutkan. Dan bersama-sama mereka pun menjatuhkan diri mengikuti Azraliel. Tak lupa, mereka juga menyiapkan bola hijau seperti yang Azraliel lakukan. Dengan menggunakan menara Tridalry, bola hijau pemberian Ivayrlan ini akan mampu mengakhiri kehidupan bangsa Namsaryan.
****
Sejak terbentuknya lubang di pelindung Halvain yang terlihat seperti bintik hijau dari tanah Eycalistreum, yang kemudian diikuti dengan munculnya gelombang kejut berwarna ungu kebiruan di atas menara Tridalry, sebagian besar penduduk kota ini mengarahkan pandangan mereka ke ketiga menara kembar itu. Mereka semua memandang dengan mimik khawatir, takut apa yang terjadi pada delapan kota besar di berbagai republik dan kekaisaran yang terlibat perang akan terjadi juga pada kota mereka ini.
Beberapa batalion pasukan, entah berkuda atau berjalan kaki terlihat bergerak rapi dan cepat di jalan raya kota. Mereka semua terlihat gagah dengan pakaian berlapis logam yang dihiasi pendaran ungu di lengan dan punggung, juga dengan senjata yang bermacam-macam. Sedikit diantara mereka masih memperlihatkan wajah takut, tapi sisanya terlihat sangat bersemangat dan berani.
Beberapa detik setelah terlihatnya gelombang bulat itu, terlihat pancaran sinar hijau yang singkat tapi dahsyat di tiga puncak menara Tridalry. Setelah itu, pendaran hijau terlihat menyelubungi menara mulai dari atas ke bawah. Ketika seluruh bagian menara sudah terselubungi, muncul pancaran cahaya hijau lain berbentuk lingkaran dari tanah tempat menara Tridalry berdiri. Cahaya hijau itu menguat hingga ketiga menara tak lagi terlihat, dan meninggi hingga menembus awan. Lalu tiba-tiba, cahaya hijau itu menyebar dan meluas. Cahaya hijau yang kuat hingga terlihat seperti dinding hijau ini meluas dengan cepat, sambil mencabut ingatan dan kekuatan Nansyar dari setiap Namsaryan di kota. Semua tersapu bersih, tak ada yang lolos.
Ketika dinding cahaya ini telah melewati dinding Eycalistreum, warnanya berubah menjadi lebih kekuningan dan bergerak lebih cepat. Kali ini, dinding cahaya ini tidak hanya mencabut kekuatan Nansyar, tapi juga mencabut nyawa dari setiap Namsaryan yang disentuhnya. Dengan cara inilah kehidupan Namsaryan diakhiri. Dan nantinya setiap kekuatan Nansyar yang terceabut akan tersimpan dan terkunci di bawah menara Tridalry.
Tidak lama lagi bangsa Namsaryan akan benar-benar habis. Sekarang hanya tinggal giliran Azraliel, Gamnaron, dan Lyarin untuk mengakhiri hidup mereka, dan mengakhiri riwayat Namsaryan untuk selamanya. Sebenarnya mereka masih membawa satu tugas terakhir. ”Untuk menghubungkan kekuatan kehidupan Tridalry, dengan kekuatan kehidupan manusia sebagai generasi yang baru.” Azraliel masih ingat, Ivayrlan sempat mengatakan hal yang tidak begitu ia pahami tersebut. ”Dengan begitu, Tridalry dapat lebih menggantungkan hidupnya pada kehidupan manusia yang tinggal di atasnya.” Masih membingungkan bagi Azraliel, tapi setidaknya Azraliel masih ingat dengan tugasnya. Ia harus menonaktifkan kekuatan Nansyarnya, agar dirinya seperti manusia biasa. Dan setelah itu, ia harus membunuh dirinya dan membiarkan darahnya mengalir membasahi lantai puncak menara Tridalry. Gamnaron dan Lyarin juga ditugaskan begitu.
Mereka bertiga pun berdiri, dan menonaktifkan kekuatan Nansyar mereka. Lalu mereka mencabut pisau yang terpasang di pinggang masing-masing, dan memposisikannya tepat di samping leher mereka.
Semuanya sudah siap, tinggal satu gerakan lagi dan semuanya selesai. Tapi Azraliel masih ragu. Saat itu ia agak menunduk, sehingga yang terlihat olehnya adalah lantai gelap puncak menara. Sebenarnya ia ingin segera melakukan tugas terakhirnya dan mengakhiri ini semua. Tapi entah mengapa, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Agak lama Azraliel terpaku. Lalu tiba-tiba, ia merasa kehilangan seluruh kekuatannya. Lantai gelap yang diinjaknya terlihat mendekat. Terus mendekat hingga lantai itu terlihat akan menabraknya. Tapi sesaat sebelum wajahnya benar-benar menyentuh lantai itu, ia menutup mata. Tapi anehnya, ia tak merasakan apa pun. Karena penasaran, dibukanya kembali matanya, dan semakin bingunglah ia.
Azraliel berputar dan menengok kesana-kemari dengan ekspresi datar. Ia terlihat seperti orang tersesar, yang juga mencari sesuatu yang hilang. Tapi kemudian ia teringat. Bahwa ini seperti mimpinya tadi malam.
Sebuah kota, atau lebih tepatnya bekas kota. Pondasi bangunan masih melekat di tempat masing-masing dengan rapi, tapi bangunan di atasnya tak satupun yang utuh. Setelah berjalan beberapa langkah melewati jalanan yang penuh puing, Azraliel melihat sesuatu yang membuatnya semakin yakin bahwa ia berada di dunia yang di malam sebelumnya ia impikan. Patung itu masih di sana. Masih di depan reruntuhan bangunan besar, dan masih tergeletak tak berdaya.
Azraliel masih bingung. Kali ini ia mempertanyakan bagaimana dirinya bisa berada di tempat ini. Ia sangat yakin bahwa ini hanya khayalan atau mimpi belaka. Tapi anehnya, hal ini terasa sangat nyata. Tak pernah sebelumnya ia memasuki dunia mimpi dengan kondisi sesadar ini. Karena bingung dan tak tahu harus berbuat apa, Azraliel berjalan, entah kemana. Yang jelas, lebih baik begitu daripada hanya berdiri terpaku.
Saat berjalan dengan lemah melewati jalan besar lurus yang penuh kayu pecah dan batu bata yang berserakan, lelaki yang hanya sendirian ini mendapati sebuah pemandangan yang matanya seolah tak mau mempercayai. Di depannya, cukup jauh, berdiri tiga menara berwarna gelap. Tapi ketiga menara itu tinggal separuh, bagian puncaknya sudah tiada. Di bagian yang masih bersisa pun terlihat retakan-retakan yang tidak kecil.
”Menara Tridalry?” Azraliel segera menoleh ke kanan dan kirinya. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa tempat ini bukan Eycalistreum. Sayangnya, ia tak mengenali bangunan-bangunan tak utuh di sekelilingnya. Ia lalu berlari ke sebuah bangunan yang lantai duanya masih cukup bagus. Dengan terburu-buru dan hati yang tidak ingin percaya akan apa yang baru dilihatnya, ia menaiki tangga. Tak butuh waktu lama, ia sudah sampai di lantai dua yang terbuka karena atapnya hampir tiada. Ia langsung memandang jauh, ke segala arah. Dengan melihat posisi matahari, ia menebak arah mata angin. Dan ia pun terpaksa mengakui bahwa dugaannya memang benar. Laut di utara, dan dikelilingi pegunungan.
”Eycalistreum? Hancur?” Azraliel seolah belum menyerah dalam usahanya mengingkari penglihatannya. Ia lalu menoleh. ”Menara Tridalry juga? Bagaimana mungkin bisa seperti ini?”
Agak lama Azraliel diam terpaku dan hampir tak berkedip. Meskipun hanya ditemani deru angin dan juga kabut tipis yang mulai memperlihatkan diri, Azraliel bisa saja bertahan berdiri di tempat itu selama berjam-jam. Tapi tiba-tiba, sesuatu yang lain datang menghampirinya. Sebuah guncangan kecil yang dengan cepat menjadi dahsyat. Tapi Azraliel tetap tak bergeming, sampai guncangan itu meruntuhkan bangunan tempatnya berdiri. Dan sekali lagi, ia menyaksikan tanah yang bergerak mendekat ke arahnya. Semakin dekat, dan sekali lagi, hitam.
***
Azraliel membuka matanya dengan cepat. Sekali lagi ia bingung dengan hal aneh yang baru ia alami. Butuh beberapa detik baginya untuk sadar bahwa ia sedang berada di sebuah tempat yang sejuk dan semilir. Pisau yang tadi dipegangnya kini berada di lantai. Azraliel tetap berdiri di tempat, berusaha memastikan bahwa kali ini ia sedang benar-benar berada di dunia nyata. Masih dalam proses mengingat dan menyadarkan diri, Azraliel melihat lantai puncak dua menara Tridalry yang lain memancarkan cahaya. Dahinya lalu berkerut, sepertinya ada yang tidak beres.
”Gamnaron? Lyarin?” Azraliel mulai ingat. Tapi lagi-lagi ia malah bingung, ia sangat yakin kedua rekannya itu sebelumnya ada di sana. Jawabannya muncul ketika ia melihat susuatu yang berkilau di salah satu puncak menara, yang ternyata adalah pisau. ”Oh, aku ingat sekarang. Kalian sudah menyelesaikan tugas kalian dengan baik. Sekarang giliranku.”
Azraliel berjalan dan mengambil pisaunya. Ketika ia mengangkat pisau itu ke lehernya, ia teringat hal aneh yang baru dialaminya. Tentang menara Tridaly, dan juga Eycalistreum yang hancur.
”Khayalan itu...” Azraliel mencoba mengingatnya. ”Apakah nyata? Apakah akan menjadi nyata?” Pisau yang dipegangnya kini sudah menyentuh kulit lehernya. ”Bagaiamana kalau itu ternyata benar, Eycalistreum hancur?”
Lagi-lagi Azraliel dilanda kebingungan. Ia tidak tahu harus berbuat apa tentang khayalan anehnya yang terasa cukup nyata. Akankah ia menganggapnya mimpi biasa, ataukah ia akan menganggapnya sebagai semacam peringatan? Untunglah dalam kebimbangannya ini, jawaban datang cukup cepat. Azraliel ingat, bahwa ada sebagian ciptaan dewa yang ditanam di dunianya ini, ciptaan yang mungkin saja sangat kuat. Ia juga ingat saat Ivayrlan mengatakan bahwa Tuhan akan mengurus semuanya. Tapi ia sama sekali tak punya gambaran bagaimana cara Tuhan mengurus hal ini.
Akhirnya ia berhasil membuat keputusan. Tuhan memang akan mengambil alih mulai beberapa saat yang lalu, tapi entah dengan cara apa.  “Seseorang harus melindungi Eycalistreum! Tapi bukan seorang biasa.”
Azraliel mengaktifkan kembali kekuatan Nansyarnya, hingga pendarannya berwarna biru. Setelah itu, ia melepas bajunya. Pisau yang tadinya menempel di lehernya, dipindahkan ke perutnya. Dan dengan yakin, Azraliel menyayat sendiri perutnya. Ketika darahnya mulai mengalir, ia menjatuhkan diri dan bertumpu pada lutut dan tangannya. Tidak berapa lama, Azraliel menyaksikan dengan mata kepala sendiri jatuhnya setetes darah Namsaryannya. Dan ia pun tersenyum. “Ivayrlan, jika harus ada seseorang yang melindungi Eycalistreum, jadikanlah itu kami, Namsaryan!”
Sekarang Azraliel bersiap untuk mengakhiri tugasnya dan juga hidupnya. Sekali lagi, pisau di tangan kanannya ia tempelkan ke leher. Dan setelah menghembuskan nafas panjang terakhirnya, ia memotong kedua saluran di lehernya sendiri. Aktivitas otaknya langsung menurun, tapi aktivitas jantungnya justru meningkat, berusaha memompa sebanyak mungkin darah tuannya untuk keluar dan menyentuh lantai puncak Tridalry, seperti yang Ivayrlan perintahkan. Seketika itu juga tubuh Azraliel jatuh terkapar, dan ikut dibasahi oleh darahnya. Tanggung jawabnya sudah selesai.
Seperti yang terjadi pada dua puncak menara lainnya, bagian yang terkena darah Azraliel lalu bercahaya. Perlahan, tubuh Azraliel juga terurai menjadi butiran cahaya yang berjatuhan dan diserap oleh menara Tridalry. Kini, benar-benar tak ada lagi Namsaryan yang tersisa. Dan selama satu hari penuh sampai matahari terbenam, keadaannya tak berubah. Barulah keesokan harinya, matahari manusia terbit untuk pertama kalinya. Seluruh Namsaryan tanpa Nansyar, atau manusia ini, mulai terbangun satu-persatu. Semuanya tak menampakkan ekspresi apapun selain bingung, karena seluruh ingatan mereka juga ikut tercabut. Tapi inilah awal dari kehidupan manusia, sang pengganti Namsaryan. Dan bersamaan dengan bangkitnya para manusia baru di kota ini, kobaran api muncul dan membesar di puncak tiap menara Tridalry. Eycalistreum telah hidup kembali.
***
Di tanah terbuka di dekat menara Tridalry, dua orang tua mulai terbangun. Orang tua yang pertama berambut putih dengan pakaian putih sederhana, sementara yang satunya masih terlihat kekar dan mengenakan pakaian perang.
”Kau tak apa, Jendral?” Tanya pria berambut putih.
”Aku baik-baik saja, Ketua! Tapi, menurutmu apa yang terjadi?” Tanya pria satunya, sang Jendral.
”Entahlah, aku belum pernah melihat cahaya hijau yang seperti itu. Dan menurutmu, berapa lama kita pingsan?” Pria berambut putih ini, atau sang Ketua lalu melihat ke atas, ke puncak menara dan tak mendapati apapun selain langit dengan lukisan awannya.
”Tentu saja aku tidak tahu, Ketua.”
”Sebaiknya kita lihat keadaan di kota!” sang Ketua itu lalu menggerakkan tangannya. Tak berapa lama kemudian, ia lalu merasa aneh.
”Menurutku engkau harus pergi duluan, Ketua. Nagaku hilang.” Kata sang Jendral. ”Ketua?” Heran melihat sang Ketua yang malah diam dengan tangan setengah terangkat, sang Jendral mendekat. ”Ketua? Ada yang salah?”
”Bisakah kau aktifkan kekuatan Nansyarmu?” Tanya sang Ketua.
”Oh, tentu.” Sang Jendral juga menggerakkan tangannya sedikit, dan ia juga lalu merasa aneh. ”Ini aneh, aku tak bisa!”
Sang Ketua lalu menoleh pada Jendralnya. ”Tampaknya, anakku telah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Tidak ada lagi Namsaryan!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar